‘The Hunger Games’ Review

Salah satu film yang ditunggu di tahun ini, ‘The Hunger Games’ adalah fenomena perubahan media dari novel trilogi menjadi major box-office. Dari segi cerita, sebenarnya ga bisa di compare dengan Harry Potter atau Lord of The Rings dari segi orisinalitas, karena ceritana begitu basic dan Suzanne Collins bukanlah orang pertama yang keluar dengan ide seperti ini.

‘The Hunger Games’ bercerita tentang betapa berkuasanya sebuah kota bernama Capitol, saking berkuasanya Capitol membuat 12 district disekitarnya nurut dan men-supply berbagai macam energi ke Capitol. Iyah, tiap district punya spesialisasi sendiri misalkan Tambang, Listrik, Air, dan sebagainya. Setiap tahunnya, Capitol membuat 1 game dimana tiap district diharuskan memberi perwakilan 1 cowo dan 1 cewe, disebut tribute, untuk bertanding ke dalam arena menghadapi tribute dari district lainnya, jadi total ada 24 tribute yang bertanding sampai mati dan hanya akan ada 1 orang pemenang. Seperti yang sudah saya bilang kalo ide seperti itu juga pernah muncul di film ‘Running Man’ dan ‘Battle Royale’.

okay, sekian tentang background story dari ‘The Hunger Games’, mari kita bahas tentang filmnya.

Hal pertama yang ada di otakku ketika detik film ini dimainkan adalah aku ga boleh bandingin film ini dengan bukunya, kenapa? hal itu sama sekali nggak fair buat filmnya. kalo pas kita baca buku, kita akan terbawa oleh imajinasi yang dirangkai di otak, tanpa ada ekspektasi apa-apa. sedangkan di film, kita sudah punya ekspektasi atau bayangan tentang tiap adegan, jadi kalo ada adegan yg ga cocok atau malah dihilangkan tentu aja kita ngerasa film itu ga sebagus bukunya. anyway, it’s all just my personal opinion.

kembali ke filmnya, Jennifer Lawrence yang meranin tokoh utama, Katniss Everdeen, emang mak-nyus actingnya. Cara dia meranin Katniss yang ga banyak omong, tegas, dan fearless bener-bener pas! dari segi cerita, mungkin sang sutradara sengaja ngurangin kesan violence supaya rating filmnya tetep PG13, jadi adegan pembunuhan sadis yang ada di buku hampir semua diatur agar tetep enak diliat di semua umur, ga ada yang terlalu sadis.

Lagian ‘The Hunger Games’ ini lebih fokus tentang background kenapa sampai ada game gila seperti itu. Lebih dari 50% dari film ini adalah cerita tentang Katniss dan bagaimana dia nyiapin diri buat Hunger Games. Agak disayangkan, jadi pada saat Hunger Gamesnya mulai itu ga ada kesan yang wah atau wow, biasa ajah. Padahal aku suka banget ama Trailer film ini, endingnya waktu para tribute berlari ke arena itu bener-bener epic!

Ada beberapa bagian di film ini yang kameranya agak shaky, ga cocok banget dan aku ga tau kenapa mereka bikin seperti itu. Sutradara film ini sebenernya sudah pas dalam menterjemahkan novelnya. Contohnya adalah bagaimana tampilan Capitol dan berbagai macam gadget canggihnya. Kalo kalian baca bukunya, kalian akan bingung memvisualisasikan bagaimana bentuk kota Capitol, bagaimana jutaan penonton bisa memantau terus kegiatan tribute, terus bagaimana Capitol bisa ngatur arena seperti ngebalik martabak. Bayangin ajah, mereka bisa nentuin area hutan mana yang terbakar, pohon mana yang harus runtuh, bahkan mereka bisa ngatur siang malam di arena semudah mencet tombol. Sumpah, keren banget visualisasinya.

Untuk hal yang kurang srek di aku sih adalah bagian endingnya. Seharusnya lebih banyak lagi porsi ending di film ini, aku mikir sih tinggal ditambahin ajah tapi ternyata durasi filmnya sudah lumayan panjang, 140-150 menit. kenapa aku bilang gitu, karena endingnya di buku pertama nantinya jadi landasan di buku kedua, that’s why.

Selain hal itu, rasanya ga ada hal lain yang harus di complain sih di film ini. Bener-bener layak buat jadi Box Office di USA selama 2 minggu berturut-turut.

 

Venom Score : 8.5/10

Awesome : 

  • Ceritanya sesuai ama Buku dan visualisasinya ciamik
  • Castingnya luar biasa, terutama Jennifer Lawrence buat karakter Katniss

Ugly :

  • Ceritanya sedikit ga balance, terutama di bagian ending
  • Ada beberapa bagian dimana kameranya shaky
  • Ada beberapa peran yang harusnya diberi porsi lebih, contoh Haymitch.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s