Singapore Part-1

Kelar dengan capek-capek resepsi nikahan tanggal 22 Febuari, aku sama puput cabut ke Singapore pas tanggal 1 Maret. Apa perjalanan itu dalam rangka bulan madu? susah juga bilangnya, karena trip ke Singapore ini bukan cuma kita berdua. Tapi ada Danny, Mbak Leni, dan Ravi.

Nah, 1 Maret pagi kita cabut ke airport naik taxi habis subuhan jam 5 karena flight-nya jam 7:30. Untuk pertama kalinya, kita cobain terminal baru di Juanda yang dikasih nama T2 – Terminal 2. Sekitar jam setengah 7 aku sama puput sudah antri buat check-in, 150ribu untuk penerbangan international tiap orang. Dodolnya, kita sudah ndak bawa banyak duit rupiah dan karena Terminal 2 ini masih baru, masih belum ada ATM donk. Mati nak…aku tanya salah satu petugas disana dan untungnya kata dia kita boleh bayar pake mata uang luar. Begitu giliran kita check-in, mbak petugasnya kaget begitu aku kasih duit 100 dollar singapore buat bayar airport tax.

Dia bilang “wah ndak bisa mas….”

Belum sempet aku balas omongannya, dia ngomong “eh bentar, kayanya aku ada duit dollar singapore” dia buka dompetnya dan Voila! dia bisa kasih kembalian 50 dollar dari 100 dollar yang aku kasih. Kenapa kembaliannya cuma 50 dollar? entahlah, aku samapuput waktu itu masih tahap bersyukur kita bisa bayar pake dollar singapore dan lupa hitung kembaliannya yang agak janggal. Hilanglah sekitar 300ribu atas kedodolan kami.

Fast-forward ke Changi. Airportnya wapik! Kita bisa akses wifi di mana ajah dan banyak disediain PC buat browsing internet. Ndak salah kalo airport ini berkali-kali meraih penghargaan sebagai airport terbaik di dunia. Ada juga mesin pijat otomatis disini.
changi

Begitu keluar dari airport, karena minimnya persiapan yang aku siapin jadilah kami bingung mau naik apa ke rumah yang nantinya kami tinggalin selama semalam. Aku pakai airBNB buat cari rumah yang murah dan akses ke MRT (Mass Rapid Transit) gampang, alamat rumahnya di Kelabu Asap – Holland Village. Hal pertama yang aku lakuin adalah cari bis, nanti bisa tanya-tanya disitu pikirku. Cari bisnya aja kami ngabisin waktu 30menit dan sempet mau masuk bis yang menuju ke Malaysia, entah awak jadi macam apa kalo nyasar kesitu. Ternyata terminal bis ada di basement airport, begitu nemu terminalnya kami langsung tanya bagaimana caranya ke Holland Village.

Orang naik MRT itu bisa dengan 3 cara, pertama pake MRT Card yang beli 5 dollar dan diisi saldo — aku sama puput belum punya itu. Cara kedua adalah bayar pake recehan dollar singapore — aku sama puput juga punyanya duit dollar lembaran. Cara ketiga adalah gandol di atasnya — aku sama puput masih cukup punya akal sehat untuk tidak menempuh cara itu. Alhasil kami bayar naik bis MRT pake duit 5 dollar, padahal biaya buat kami berdua cuma sekitar 1,25 dollar dan mereka tidak menyediakan kembalian donk…sekali lagi karena kurang siapnya aku, harus tekor. Naik MRT itu agak tricky, kita bisa menjangkau hampir semua bagian Singapore naik bis atau kereta MRT tapi kita mesti paham cara liat petanya dulu. Kalo kita paham petanya, gampang deh kemana-mana.

Supir bisnya sudah ngasih tau kamu bagaimana caranya ke Holland Village, dan kami nanti akan dikasih tau di bus stop mana kamu harus transfer. Mereka helpful banget, dan yang aku kagum adalah bagaimana mereka mempersilahkan orang yang duduk di depan buat pindah atau berdiri kalo ada orang setengah baya atau orang yang bawa anak kecil. Bagian depan itu dikhususkan buat mereka. Ini patut ditiru.

Okay, saya sama puput sudah sampai di bus stop Holland Village, terus sekarang tinggal cari rumahnya. Aku hubungin hostnya dan tanya gimana cara ke rumahnya, dia sudah kasih ancer-ancer, dari ancer-ancernya hostnya sih seharusnya sudah ndak jauh lagi. Satu hal yang beda sama di Indonesia adalah tiap jalan disana itu dikasih nama, entah itu jalan besar atau kecil. Di Indonesia ada satu sistem yang membantu banget bernama “Gang”. Contohnya Jalan Jambu gang 1, gang 2, atau gang buntu, mereka masih dalam satu kesatuan yaitu Jalan Jambu. Di Singapore tiap gang itu punya nama yang berbeda, pantesan aja semua orang yang aku tanya dimana jalan Kelabu Asap pada ndak tau, padahal jalan Kelabu Asap itu cuma 300 meter dari tempat mereka itu.
kelabu

Sampailah kami di Jalan Kelabu Asap, Holland Village. Ternyata itu semacam komplek perumahan gitu dan rumahnya bagus. Bukan bagus seperti mewah dan megah, tapi rumah yang luas halamannya. Tema putih dan pagar pendek hampir keliatan di setiap rumah di kompleks ini. Setelah jalan sekitar 5 menit, kami sampai di tujuan dan tuan rumahnya sudah nungguin menyambut di depan rumah.

Kami langsung mandi dan siap-siap ketemu Danny, Mbak Leni dan Ravi di Esplanade.

Kali ini aku sama puput bikin MRT Card dan setelah muter sana sini di Esplanade akhirnya ketemu deh sama mereka. Kami foto-foto bentar dan langsung cari tempat buat makan. Kami makan Thai Express, makanan yang murah meriah. Lanjutlah kami berlima jalan mengelilingi Marina Bay Sands, kami pengen ngopi-ngopi tapi karena kemaleman akhirnya kami mutusin buat pulang. Kami balik ke Holland Village dan mereka balik ke tempat mereka.

Baiklah, nanti bakal lanjut lagi di blog post selanjutnya tentang kegiatan apa aja yang aku lakuin di Singapore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s